Cerita Mesum Menikmati Birahi Berhubungan Sex

Senin, Mei 9th, 2016 - Cerita Mesum
it help desk

Cerita NgentotCerita Mesum Menikmati Birahi Berhubungan Sex – Kumpulan Cerita Seks Panas, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum ABG, Cerita Hot, Janda Nakal, Cerita Ngentot Tante Girang, Cerita ABG Sex. lihat juga cerita sex bergambar sebelumnya yang tak kalah seru untuk dibaca Cerita Dewasa Dengan Gadis Dibawah Umur.

Jika Setiap pagi aku selalu lewat depan rumahnya, jadi aku paham akan semua keluarganya dia masih mempunyai anak balita yang masih kecil, penghuninya namanya Eril, dikenal sebagai keluarga pecinta seni, dimana Eril itu lulusan seni tari sedangkan suaminya adalah pelukis, keduanya asal dari orang jawa tepatnya kota Klaten.

Cerita Mesum Menikmati Birahi Berhubungan Sex

Cerita Mesum Menikmati Birahi Berhubungan Sex

Wajahnya juga tidak cantik amat tetapi dengan ciri khas jawanya orangnya lembut mukanya polos wajah pasrahnya jadi aku sangant betah melihat wajah Eril dari kejauhan, orangnya juga enak diajak ngobrol, benar sekali suaranya yang lirih, sempat aku berimajinasi jika ngemponi dia pasti desahannya mengasikkan.

Nah, suatu hari lakinya jadi kaya mendadak karena ada order lukisan dalam jumlah besar. Terus, dia ngontrak rumah sebelah buat Eril sama anaknya. Rumah yang sekarang dijadiin galeri lukis. Doi yang sebelumnya sering cerita kalo lakinya sibuk banget, sekarang cerita repotnya ngurus rumah dan anaknya yang umur 3 tahun sendirian.

Itu sebabnya dia ngajak adiknya Alma dan ponakannya Nora untuk tinggal serumah. Tampang dua cewek itu mirip banget sama Eril, cuma dua-duanya lebih seger dan imut-imut. Akhirnya aku tahu juga kalo di rumah itu, sering cuma ada tiga cewek tadi sama satu anak balita.

Nafsu juga aku waktu temen aku ngasih usul yang menarik. Langsung saja aku telepon Eril malem itu.

Aku rubah suara aku biar nggak dikenal.

“Choirun ada?”

“Nggak ada, lagi mancing. Ini siapa ya?” Huh bego, pikirku.

Dia kagak tahu kalo lakinya lagi maen sama Linda, tante Chinese yang gatal !

“Mbak Eril sendiri ya?” “Nggak, sama Alma dan Nora,”

“Ya sudah, besok saja,” Tiga temen aku langsung bersorak begitu pasti malam itu lakinya Eril nggak di rumah. Kami berempat pun segera berjalan ke rumah dekat gerbang perumahan itu.

Tiga temen aku sudah siap dengan ‘peralatan’nya, lalu mengetuk pintu. Seorang perempuan mengintip dari balik korden.

“Siapa ya?” “Kami dari Polres bu, ada yang ingin kami sampaikan,” sahut teman aku yang badannya memang mirip polisi.

Tak lama kemudian pintu terbuka, tiga temen aku masuk. Dari jauh aku lihat Alma dan Nora ikut menemui mereka.

“Maaf bu, suami ibu kami tangkap satu jam lalu,”

“Lho, kenapa?” Eril terlonjak. “Ia kedapatan menghisap ganja…”

“Nggak mungkin!” perempuan itu memekik. “Tapi begitulah kenyataannya. Kami juga dapat perintah menggeledah rumah ini. Ini suratnya,

” Eril tak dapat menolak, dibiarkannya ketiga ‘polisi’ itu menggeledah rumahnya. Dasar nakal, seorang temen aku sudah menyiapkan seplastik ganja dan kemudian ia teriak,

“Ada di bawah kasur sini, komandan!” Temenku yang paling besar memandang Eril dengan tajam. “Sekarang kalian bertiga ikut ke kantor polisi!” tegasnya.

“Tapi…tapi…saya nggak tahu bagaimana barang itu ada di situ…” kata Eril terbata-bata.

“Sekarang ibu bantu kami, ikut saja ke kantor polisi, juga dua adik ini,” Akhirnya ketiga cewek itu mau juga ikut, setelah sebelumnya Eril menitipkan anaknya ke Bu Tukiran. Temen aku pinter juga, dia pinjam mobil Feroza Eril dengan alasan mereka cuma bawa motor.

Lewat handphone, salah satu temen aku ngasih tahu. “Beres Dan, siap cabut,” katanya. Aku segera pakai topeng ski, ambil kunci mobil dan duduk di belakang stir. Sebelum masuk, kaget juga tiga cewek itu karena tangan mereka diborgol di belakang punggung.

“Kami nggak ingin repot nantinya,” alasan temen aku. Hanya beberapa saat saja, mobil pun berjalan. Eril duduk di tengah dengan satu temen aku menjaga pintu. Sedang Alma dan Nora di belakang dijaga dua lagi temen aku.

Baru jalan 100 meteran di jalan menurun ke arah Kasongan, tiga temen aku itu ketawa ngakak. “Gampang banget…” kata mereka.

Tentu saja tiga cewek itu bingung. Apalagi Eril kini terpaksa duduk merapat jendela karena dipepet lelaki besar di sebelahnya.

“Kalian tidak akan kami bawa ke kantor polisi, seneng kan nggak perlu lihat pistol? Tapi jangan khawatir, nanti kita tunjukin pistol yang lain,” desisnya. “Eh…eh…apa-apaan ini?” Eril ketakutan.

“Eiiiiii….awwwhhhh…kurangajj…awwwhhhh… ” Eril menjerit dan meronta, sebab tiba-tiba kedua payudaranya ditangkap dua telapak tangan yang besar, lalu diremas-remas keras seenaknya. Dua gadis di belakang juga menjerit-jerit ketika payudara mereka pun diperlakukan sama.

Lelaki itu lalu menyingkapkan jilbab Eril dan dengan nafsu kembali mencengkeram payudara montok itu. Eril makin keras menjerit. Lalu tiba-tiba…breetttt….bagian muka jubah tipisnya koyak sehingga memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang berbungkus BH coklat muda.

“Wah, susu yang segar,” kata temen aku. “Jangannn…tolong…jangaann…” Eril menangis.

“Jangan cerewet, kalian bertiga tidak usah bawel, nurut saja atau tempik kalian kuculek pake belati ini!” kali ini temen aku mulai mengancam dengan menyentuhkan ujung belati ke permukaan payudara Eril yang menyembul dari BH-nya.

Di belakang, Alma dan Nora terisak-isak. Blus keduanya sudah lepas, tinggal rok yang menutupi bagian bawah tubuh muda dan mulus itu. Keduanya pun memekik berbarengan ketika penutup dada mereka direnggut hingga putus.

“Wah…wah…ini susu yang indah…” kata kedua temen aku di belakang. “Coba lihat punya Nyonya ini…” lanjut mereka. Temen aku di depan pun bertindak cepat, memutus tali antara dua cup BH Eril.

Eril terisak, buah dadanya kini telanjang dan…..”Awwwwww….” ia menjerit agak keras ketika kedua putingnya dijepit dan ditarik serta diguncang-guncangkan. Kedua temen aku di belakang ketawa dan ikut-ikutan melakukan hal yang sama pada puting Nora dan Alma.

Eril meronta-ronta tapi sia-sia saja ketika tubuhnya dibaringkan di jok mobil, lalu temen aku duduk di atas perutnya, memunggungi dan menyingkapkan bagian bawah jubahnya. Kedua kaki telanjangnya menendang-nendang, tapi ia kesakitan juga waktu kedua bagian dalam paha mulusnya dicengkeram keras.

Ia menjerit lagi waktu selangkangannya yang ditutupi celana dalam putih digebuk sampai bunyi berdebuk. Dengan kasar, jari-jari temen aku menyingkapkan kain segitiga itu hingga memeknya yang berjembut agak lebat terbuka.

Tanpa ba bi bu, ditusukkannya telunjuknya ke lubang memek Eril. “Aaaaakhhhh….” Eril menjerit kesakitan. Memeknya yang kering membuat tusukan itu jadi amat menyakitkan. Tapi temen aku itu nekad terus nyodok-nyodok memek yang legit itu.

Malah waktu telunjuknya sudah terasa agak licin, dia tambah jari tengah. Lagi-lagi Eril menjerit kesakitan. Tapi nggak kapok juga temen aku itu. Sebentar saja sudah tiga jari yang nyodok-nyodok memek perempuan manja itu.

Di belakang, Alma dan Nora juga merintih-rintih, sebab dua lelaki yang bersama mereka kini mengisap-isap pentil susu mereka sambil terus meremas-remas teteknya yang kenyal. Alma pertama kali memekik waktu tangan temen aku menelusup sampai ke balik celdamnya dan meremas-remas memeknya sambil sesekali mencabuti jembutnya.

Nora akhirnya juga mendapat penghinaan yang sama, bahkan ia merasa klentitnya lecet karena terus diuyel-uyel dengan kasar.  Mobil akhirnya sampai ke rumah besar punya temen aku yang asyik ngobok-obok memek Eril.

Aku buka pintu belakang mobil. Di dalam, aku liat Alma dan Nora yang topless, cuman pake rok doank! Dan yang lebih bikin aku kaget lagi, ternyata kontol dua temen aku lagi dijilatin ama dua perawan itu. Toket kedua anak itu kelihatan mulai memerah karena terus diremet-remet.

Terang aja aku tersentak, tapi aku sendiri gak bisa berbuat apa-apa lagi! Soalnya aku sendiri nggak tahan, terus ikut mencet pentil kanan Alma dan pentil kiri Nora.

“Nggghhhhh….” dua cewek itu cuma bisa mengerang karena dua kontol ada di mulut mereka.

Terus aku buka pintu tengah. Buset, di dalam, temen aku masih asyik menjilati memek Eril dan menyodok-nyodok lubangnya dengan tiga jari. Eril sudah tidak menjerit-jerit lagi. Yang terdengar sekarang cuma rintihannya, persis seperti bayangan aku. Nggak tahan, aku naik, terus aku pegangin kepala perempuan berjilbab itu.

“Emut kontol aku, kalau nggak, aku potong tetek lu!” kata aku sambil nyodorin kontol yang udah ngaceng sejak tadi. Tangan kiri aku mencengkeram tetek kanan Eril yang montok sampai ke pangkalnya. Tangan kanan aku menahan kepala Eril biar tetep menghadap kontol.

Eril nyerah, dia buka mulutnya. Cepet aku masukin kontol aku sampe ke pangkalnya. “Diemut!” bentak aku sambil menambah tenaga remasan di buah dadanya. Aku ngerasain kenikmatan yang luar bisa banget waktu kontol aku diemut-emutnya sambil merintih-rintih.

Biar gampang, sama temen aku tadi, aku gotong cewek itu dan aku lempar ke lantai garasi. Eril menjerit kesakitan dan makin keras jeritannya waktu jubahnya aku lucuti, begitu juga rok dalam dan celdamnya. Terlihatlah memeknya yang terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya.

Aku mainkan itilnya yang ada di dalam bibir memeknya sampai dia berkelojotan ke kanan-ke kiri. Sekarang temen aku yang jongkok di depan muka cewek itu dan memaksanya berkaraoke. Dari belakangnya, tanpa banyak bicara, aku langsung ngentot cewek itu.

“Aunghhhhhh…” Eril mengerang panjang waktu kontol aku nyodok memeknya sampai mentok. Memeknya lumayan rapet dan legit biarpun dia sudah punya anak satu. Ada seperempat jam aku kocok memeknya pake kontol, terus aku suruh dia nungging.

Dari depan, temen aku masih ngentot mulutnya sambil memegangi kepala cewek berjilbab itu. Dari belakang, pemandangan itu bikin aku makin nafsu. Aku remet keras-keras memeknya pake tangan kiri, terus telunjuk kanan aku tusukin ke pantatnya.

Eril mengerang lagi waktu aku gerakin telunjuk aku berputar-putar supaya lobang kecil itu jadi lebar. Begitu mulai lebar, aku masukin kontol ke dalamnya. Tubuh Eril mengejang hebat, erangannya juga terdengar amat heboh.

Tapi tetep aku paksa kontol aku biar susahnya bukan main. Sampe akhirnya kontol aku masuk sampai ke pangkal, aku tarik lagi sampai tinggal kepalanya yang kejepit. Terus dengan tiba-tiba aku dorong sekuat tenaga.

“Aaaaaakhhhhh…..” Eril melepas kontol temen aku dan menjerit keras. Tapi rupanya pas temen aku sampai puncak kenikmatannya. Akibatnya air maninya nyemprot muka Eril sampai belepotan. Cuek, aku genjot terus pantat perempuan montok itu biar dia menangis-nangis kesakitan.

Malah sekarang aku peluk dia sambil kedua teteknya aku remes-remes. Temen aku yang barusan nyemprot sekarang malah masukin dua jarinya ke lubang memek Eril dan diputar-putar. Ini bikin Eril makin kesakitan.

Aku ngerasa kontol aku udah peka banget. Jadi makin cepet aku genjot dan langsung aku banting cewek itu. Eril nggak sempet mengelak, waktu kontol aku tempelkan ke mulutnya dan aku paksa dia mengulumnya.

“Crooottt…crottt…crottt…” air mani aku nyemprot sampai tiga kali ke dalam mulutnya. Eril sudah mau menumpahkannya, jadi aku pencet pentilnya dan aku tarik ke atas.

“Telen!” bentak aku. Sambil merem, Eril menelannya semua, lalu menekuk tubuhnya sambil menangis.

Dengan ujung jilbabnya aku dan temen aku mengelap kontol yang berlendir. Dari celah pantat bundar Eril aku lihat ada darah keluar. Lagi asyik ngelihatin tubuh bugil Eril, aku dengar ketawa ngakak dua temen aku.

Lalu terlihat Alma dan Nora turun dari mobil dan jalan sempoyongan. Aku melotot. Dua cewek itu nyaris bugil. Jilbab mereka disampirkan ke belakang sehingga teteknya yang kemerahan bekas diremas-remas bebas terlihat, dengan pentilnya yang kecoklat-coklatan.

Dua-duanya terisak-isak, di sekitar bibir dua cewek hitam manis itu belepotan lendir putih. Yang menarik, rok mereka sudah lepas, tinggal celdam putih milik Alma dan kuning muda Nora. Malah celdam Alma dibikin temen aku terangkat tinggi sampai nyelip di bibir memeknya.

Akibatnya, bibir memeknya kanan dan kiri kelihatan gemuk dan jembutnya menyembul ke kanan dan kiri. Nggak tahan, aku pepet anak itu ke mobil, terus tangan aku mulai merayapi selangkangannya. Tangan aku mulai bermain-main di bibir vaginanya yang njepit celananya.

“Jangaann…ampun oommm…” rintihnya.

“Adduhhhh…” pekik mahasiswi UAD itu, karena aku cabut beberapa helai jembutnya. Dari bawah aku cengkeram tetek kanan Alma yang nggak seberapa gede tapi kenyal itu, terus aku dorong ke atas sampai putingnya ngacung, lalu aku sedot kuat-kuat.

Alma meronta kesakitan, apalagi kemudian aku tarik celdamnya ke atas. Alma memekik waktu celdamnya akhirnya putus. Aku terus melorot dan aku paksa cewek itu nyodorin memeknya buat aku hisap.

Aku mainin itilnya dengan lidah aku, bahkan sampai aku sedot pakai mulut aku! Alma makin kelojotan dan mendesah. Sementara itu, aku lihat Nora lagi dipaksa menyepong kontol temen aku. Sedang Eril sudah mulai disodomi lagi.

Malah, dia dipaksa telentang dengan kontol menusuk pantatnya, lalu memeknya disodok dari depan. Kedengeran Eril menjerit-jerit kesakitan.

“Aihhh…” Alma memekik waktu telunjuk aku masuk satu ruas ke lubang pantatnya, terus aku dorong ke depan sampai lubang memeknya merekah dan kelihatan lorong yang merah dan basah, aku jilatin sampai cewek 21 tahun itu menggeliat-geliat.

“Aduhh…jangaann…” Alma menjerit waktu aku tiba-tiba berdiri sambil mengangkat kaki kirinya. Tapi aku nggak peduli, kontol aku pas banget nunjuk memeknya. Terus aku kucek-kucek memek anak itu, sampai mulai terasa basah.

Terus aku pegang kontol aku dan aku paksa masuk kepalanya ke celah bibir memeknya. Kepala kontol aku terasa seperti direndam di air hangat. Alma menjerit makin nggak karuan waktu tangan kiri aku mencengkeram tetek kanannya sampai ke pangkalnya sekuat tenaga. Malah, daging kenyal itu sampai terasa seperti remuk.

“Aaaakkhh….auhhhhh….ouchhh…aiiiii….sak kkii ittt….adduhhhhh….” Alma menjerit histeris waktu aku dorong pinggang ke depan dengan tiba-tiba dan sekuat tenaga. Kontol aku masuk sampai ke pangkalnya. Malah kerasa kepalanya sampai mentok ke dasar memeknya. Begitu mentok aku berhenti sebentar.

Gadis itu sesenggukan, nafasnya tersengal-sengal. Tapi yang paling asyik, aku merasa kontol aku di dalam memeknya seperti dibasahi cairan hangat. Belakangan aku tahu yang hangat itu darah keperawanannya.

Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, aku kocok kontol aku di dalam memek Alma. Terasa sempit banget dan kering. Aku sih enak, tapi akibatnya Alma menjerit-jerit kesakitan dan minta ampun. Alma masih merintih-rintih waktu kontol aku tarik keluar, terus aku jongkok di depan selangkangannya.

Langsung aku masukin empat jari ke dalam lubang memeknya yang masih  menganga.”Aucchhhhh…sakkkiiittt…aaahhhh…” Alma menjerit lagi waktu empat jari aku puter-puter di dalam memeknya.

Waktu aku tarik keluar empat jari aku yang basah lendir dan darah, cewek itu jatuh melorot sambil terus menangis. “Hey, bawa sini perawan satu itu, lu ambil memek yang ini.

Pantatnya buat aku ya!” teriak aku ke teman yang lagi asyik ngucek-ngucek memek Nora.

Temen aku cepat bangun lalu menyeret kedua kaki Nora dan menggeletakkan cewek imut-imut itu di dekat kaki aku. Tanpa banyak bicara, dia terus mendorong Alma yang menangis sambil duduk bersimpuh sehingga jatuh terlentang.

Aku tarik Nora sampai kepalanya berbantalkan paha aku, menghadap Alma yang lagi digarap ulang. Aku remas-remas pelan kedua payudaranya yang kenyal. Cewek itu menangis.

“Kamu paling muda, jadi memekmu pasti paling enak.

Kamu mau kontolku masuk memekmu?” kata aku sambil memilin-milin putingnya yang hitam dan mungil tetapi tebal.

“Huuu…jangaaannn…huuu…” ABG itu menangis lagi.

“Lihat Bu Lik Eril dan Bu Lik Alma itu…memeknya sudah jebol…kalau kamu nggak mau seperti mereka, kamu harus nurutin apa kata aku, ngerti? Sekarang lihat ini,” Aku lalu menghampiri Eril yang sedang dientot dan disodomi berbarengan.

Aku pegang kepala Eril yang lagi menjerit-jerit kesakitan. Lalu aku paksa dia mengulum kontol aku lagi sampai kontol aku basah. Terus aku suruh temen aku yang lagi nyodok memek Eril bangun, gantian dia memasukkan kontolnya ke mulut Eril.

Terus aku suruh pindah kontol temen aku satunya dari pantat ke memek. Badan Eril kelojotan dan gemeteran waktu aku paksa kontol aku ikut masuk memeknya. Temen aku yang dari tadi menyodomi dia rupanya nggak tahan lama lagi.

Dia cepat-cepat menggerakkan kontolnya maju mundur. Eril menjerit histeris, sebab dua kontol di dalam memeknya bikin memeknya seperti mau sobek. Temen aku rupanya nggak tahan. Nggak lama dia ngecrot di dalam memek Eril.

Yang di atas juga gitu, dia ngecrot lumayan banyak di dalam mulut Eril. Eril ambruk, lemes di lantai. Sekarang aku balik ke Alma yang lagi menjerit-jerit karena dipaksa duduk di atas kontol temen aku. Kedua teteknya dicengkeram sehingga dia terpaksa bergerak-gerak naik turun.

Dari belakang, aku dorong punggung Alma yang mulus sampai dia ambruk di atas dada temen aku. “Kamu nggak mau disodomi juga kan. Lihat nih,” kata aku lagi kepada Nora yang makin kenceng nangisnya.

Alma menjerit melengking waktu telunjuk aku paksa masuk ke lubang anusnya. Rapet banget, jadi aku paksa satu telunjuk lagi masuk dan aku gerak-gerakin, bikin lubangnya makin lebar. Sampai cukupan buat masuknya kepala kontol, aku sodok aja.

Kepala kontol aku sekarang kejepit pantat Alma. Aku dorong dua senti, Alma menjerit lagi. Mundur satu senti lalu maju tiga senti. Alma makin keras menjerit. Lalu mundur lagi satu senti dan dengan tenaga penuh…. “Aaaaaachhhhh…aauuhhhhh….saakkkiiitt….ng gghh hhh….” Alma menjerit histeris.

Kontol aku masuk sampai pangkalnya ke dalam lubang pantatnya. Sempit banget, sampai kerasa kontol aku seperti remuk di dalam. Tapi terus aku genjot agak lama. Lima menitan, aku lepas dan dua temen aku yang tadi ngerjain Eril udah siap di belakang Alma, mau gantiin.

Aku balik ke Nora, sementara Alma mulai menjerit lagi waktu pantatnya disodomi lagi. Tapi jeritannya hilang waktu mulutnya juga diperkosa.

“Gimana? Kamu mau nurut?” kata aku sambil jongkok di sebelah Nora dan mengucek-ucek memeknya yang berjembut tipis.

“I…iya…iya…” katanya terbata-bata. “Bagus, sekarang bersihin kontolku,” kata aku sambil berdiri, menyodorkan kontol aku yang basah air mani temen aku dan darah dari pantat Alma. Nora menelan ludahnya, tampangnya tampak jijik.

Tapi karena takut, dia jilat juga kontol aku. Gila, aku kayak di awang-awang, apalagi dia terus mulai menyedot-nyedot kontol aku. Setelah lama dia nyepong aku, aku liat tiga temen aku udah selesai. Alma kayaknya pingsan. Memek, pantat dan mulutnya belepotan air mani.

“Aku juga bersihin dong,” kata temen-temen aku berbarengan. Nora nggak punya pilihan lain. Akhirnya gadis imut-imut itu berjongkok di depan empat lelaki, menjilati dan menyepong kontol-kontol berlendir. Tidak cuma itu, dia juga aku suruh jilat seluruh air mani di badan Eril dan Alma. Malah, dari memek Eril aku sendokin air mani dan aku suapin ke mulut Nora yang berbibir mungil itu.

“Huuu…huuu…sudahh…saya mau pulang…” Nora terisak sambil duduk bersimpuh.

“Boleh, tapi kamu harus joget dulu,” kata aku sambil melepas ikatan di tangannya. Nora seperti kebingungan. Tapi tiba-tiba ia menjerit karena temen aku tahu-tahu menyabetkan ikat pinggangnya, kena payudara kirinya.

“Ayo cepet joget!” bentaknya. Takut-takut Nora berdiri, tapi kali ini temen aku yang lain menampar pantatnya dari belakang. “Joget yang hot!” bentaknya. Akhirnya Nora mulai meliuk-liukkan tubuhnya. Merangsang banget, gadis berjilbab tapi bugil, joget di depan aku.

Aku tunjuk selangkangannya. “Ayo, gerakin pinggulmu maju mundur sampai memekmu kena telunjukku ini,” kata aku. Nora nurut. Pinggulnya maju mundur sampai memeknya yang berjembut tipis nyenggol telunjuk aku.

Pas mau nyenggol kelima kalinya, sengaja aku sodok agak kenceng sampai seperti menusuk klentitnya. Nora menjerit kesakitan. Sekarang dia malah ketakutan waktu tiga temen aku ikut joget di sekelilingnya sambil memegang-megang buah dada, pantat dan memeknya.

“Jogetmu bikin aku ngaceng nih!” kata aku sambil mengacungkan kontol aku yang emang udah tegang banget. Temen-temen aku ketawa ngakak lalu memegangi kedua tangan Nora dan menelentangkannya di lantai.

“Aaahhh….janngaaaannnn….kalian jahaaaattt…aaahhhh…” Nora menjerit dan meronta-ronta. Satu kakinya dipegangi temen aku, satu lagi aku pegangin, ngangkang lebar banget. Nora nangis lagi, waktu ngerasa memeknya mulai kesenggol kepala kontol aku.

Cewek mungil ini menjerit keras waktu jari aku dan temen aku menarik bibir memeknya ke kanan dan kiri. Terus, kontol aku mulai masuk 4 senti dan tarikan langsung dilepas. Sekarang kontol aku kejepit memek perawan yang sempit.

Aku ambil posisi, pegangan dua buah dadanya yang mulus sambil jempol dan telunjuk aku menjepit pentilnya. “Aku harus adil dong, masak saudaramu dapat kontol, kamu nggak?” kata aku sambil dengan tiba-tiba mendorong kontol aku maju dengan kekuatan penuh.

Akibatnya luar biasa. Nora menjerit sangat keras. Aku sendiri merasa kontol aku merobek sesuatu yang sangat liat. Begitu kontol aku mentok ke dasar memeknya, aku berhenti sebentar. Kerasa memeknya berdenyut-denyut meremas-remas kontol aku.

Pelan-pelan aku merasa ada cairan hangat membasahi kontol aku. Itu pasti darah perawannya. Akhirnya, ABG imut-imut itu menjerit-jerit tak berhenti waktu kontol aku kocok dengan gerak cepat di dalam memeknya.

Apalagi temen-temen aku asyik meremas-remas teteknya. Malah, kerasa ada yang mulai nusuk pantatnya pakai jari. Ada lagi yang memaksanya ngemut kontolnya. Nggak lama, aku pindah kontol ke pantatnya setelah Nora dibikin nungging. Lagi-lagi Nora menjerit histeris, sebab pantatnya yang lebih sempit dari memeknya itu tetap bisa aku jebol pakai kontol aku.

Seperti dua cewek lainnya, sekarang Nora telentang di atas dada aku, terus memeknya yang berdarah disodok kontol temen aku dari depan. Mulutnya sekarang malah dipaksa ngemut dua kontol sekaligus. Sekarang Nora aku paksa nungging di atas dada temen aku sambil kontolnya tetap di dalam memek cewek yang baru lulus SMU itu.

Dua kontol masih berebut masuk mulutnya. Dari belakang, sekarang aku coba masukin kontol aku, bareng kontol temen aku yang sudah masuk duluan. Nora merintih kesakitan, waktu kontol aku bisa masuk.

Pas kontol temen aku masuk sampai pangkalnya, aku sodok keras-keras sampai kontol aku juga masuk sampai pangkal. Nora memekik keras, sebab terasa ada yang ‘krekk’ di dalam memeknya. Selaput daranya mungkin sobek lebih lebar lagi.

Aku ambil kontol karet punya temen aku, terus aku tusukin jauh-jauh ke dalam anusnya. Memeknya jadi terasa tambah sempit aja. Nora mengerang panjang waktu aku nggak tahan lagi, ngocokkan kontol beneran dan kontol karet makin cepat.

“Minggir…minggir…” kata aku ke dua temen aku yang lagi memperkosa mulut Nora. Cepet aku masukin kontol aku ke dalam mulut berbibir mungil itu dan, sedetik kemudian, air mani aku tumpah banyak banget di dalam mulutnya.

Nora sudah lemas waktu dia ditelentangin dan tiga temen aku antri ngocok cepat-cepat lalu nembak di dalam mulutnya. Cewek itu betul-betul tak berdaya. Saat temen aku yang terakhir nyemprot ke dalam mulutnya, dia malah sudah pingsan.

Mulutnya yang terbuka betul-betul putih, penuh air mani. Malah, wajah imut-imutnya juga ikut basah.  Tiga cewek itu sekarang sudah di mobil lagi. Mulut-mulut mereka yang penuh air mani sudah dilakban, sedang tangan diikat di belakang punggung.

Tiga cewek bugil itu digeletakkan begitu saja di lantai tengah mobil. Eril yang pertama siuman, merintih dan menggeliat. Dua temen aku yang jaga di jok tengah lalu mengangkatnya hingga duduk di tengah-tengah.

Lagi-lagi payudara montoknya diremas-remas dan putingnya disedot-sedot. Eril cuma bisa merintih. Tapi ia mengerang kesakitan waktu dua ujung gagang kuas lukis yang runcing didorong di atas dua putingnya sampai tak bisa maju lagi.

“Ini bagus dan menarik,” kata temen aku lalu mengikat empat kuas dengan karet gelang di dua ujung gagang kuas, masing-masing dua kuas. Ia lalu merenggangkan kedua kuas dan menyelipkan payudara Eril di antaranya.

Selanjutnya, tarikan dilepas sehingga kuas kembali merapat dan menjepit erat gumpalan daging montok itu di pangkalnya. Dua buah dada Eril diperlakukan seperti itu, sehingga menggelembung dan makin lama makin terlihat merah kehitaman.

Eril merintih dan menggeliat-geliat kesakitan. Lalu Alma yang menyusul siuman juga diperlakukan sama. Terakhir, begitu sampai Kasongan, Nora siuman. Perlakuan yang diterimanya nyaris sama. Bedanya, cuma dua kuas yang menjepit di payudaranya.

Tapi, pasti sakit sekali karena yang dijepit adalah dua putingnya sekaligus. Rumah Eril dini hari itu sepi sekali. Maka mobil langsung masuk garasi yang memiliki pintu tembus ke kamar Eril. Tiga pigura besar langsung disiapkan temen-temen aku.

Lalu cewek-cewek yang masih menggeliat kesakitan itu, kita ‘pigura’ dengan tangan terikat di frame atas, kaki di frame bawah. “Ini pasti lucu,” kata temen aku sambil bawa masuk dongkrak mobil. Diputarnya dongkrak sehingga bagian pengangkat turun merapat dan ulirnya yang berdiameter tiga senti menonjol tiga senti. Lalu dibuatnya Nora duduk di atas dongkrak.

Otomatis besi berulir menusuk memeknya. Lalu diputarnya lagi dongkrak sehingga turun dan besi berulir naik. Nora mengerang kesakitan, sebab begitu besi pengangkat rapat, besi berulir itu mencuat ke dalam memeknya sedalam 10 senti lebih.

Darah perawannya bercampur air manipun menetes ke dongkrak dan lantai keramik putih. Sedang Eril dan Alma dipigura pada posisi berdiri. Dua puting Eril dan Alma lalu disentuh dengan raket nyamuk. Sekejap tapi dua cewek itu langsung melonjak dan mengerang kesakitan.

Lalu gagang raket ditusukkan ke dalam memek Alma. Lubang pantatnya dimasuki lima kuas dengan bulu di dalam. Di memek Eril aku masukin dua baterai besar dan satu di pantatnya. Tiga buah pancing lalu aku ikat di pigura Eril. Lalu, tiga kail aku tancapkan di pentil dan klitorisnya.

Eril mengerang hebat waktu tali pancing aku gulung sampai menarik tiga titik peka itu. Sampai akhirnya, Eril pingsan lagi. “Kamu berdua harus pingsan lagi ya?” kata aku kepada Alma dan Nora yang ketakutan waktu ngelihat enam tusuk gigi lancip di tangan aku.

Pertama-tama Alma yang mengerang hebat waktu dua tusuk gigi aku tancepin di dua pentilnya sampai lima senti. Darah lalu mengalir dan menetes lewat ujung tusuk gigi. Waktu klentitnya yang aku tusuk dari bawah sampai tembus ke atas, Alma mengerang lagi dan tubuhnya kejang sampai akhirnya lemas, pingsan.

Sekarang Nora yang ketakutan. Aku tarik satu persatu putingnya, aku tusuk tembus melintang sehingga nyangkut di gagang kuas. Darah juga menitik lewat ujung tusuk gigi. Seperti Alma, dia juga pingsan waktu klentitnya juga aku tusuk tembus melintang.

Keadaan sepi, aku dan temen-temen membuka lebar korden ruang tamu, lalu menyalakan lampu. Cepat kami cabut dari situ sambil melihat pemandangan indah di ruang tamu…  Seminggu kemudian, aku mampir ke rumahnya.

Berlagak nggak tahu, toh Eril, Alma dan Nora juga nggak tahu kalo aku yang merkosa mereka. Tapi aku kaget juga waktu yang membuka pintu bukan mereka, tapi seorang gadis berjilbab putih panjang dan jubah ungu.

“Saya Kantuningsih. Saya kos di sini,” kata gadis berwajah khas Jawa itu.

“Bu Eril kemana?” “Bu Eril sekarang tinggal di Klaten…” sahutnya. Ow… ow… aku kecewa. Tapi entar dulu, kapan-kapan si Kantun ini perlu disodok juga memeknya. Temen-temen aku harus dikasih tau !

itil reviewitil training
Cerita Mesum Menikmati Birahi Berhubungan Sex
by: | 5