Cerita Horny Pacarku Tanpa Pakaian Dalam

Kamis, Mei 18th, 2017 - Cerita Dewasa
it help desk

Cerita Ngentot – Cerita Horny Pacarku Tanpa Pakaian Dalam – Kumpulan Cerita Sex Panas Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum ABG, Cerita Sex Janda Hot, Cerita Ngentot Tante Girang, Cerita Seks Cewek Nakal. lihat juga cerita sex bergambar sebelumnya Ibuku Minta Lulur Berujung Adegan Sex.

Cerita Horny Pacarku Tanpa Pakaian Dalam

Cerita Horny Pacarku Tanpa Pakaian Dalam

Hari itu santi mengundangku untuk datang ke tempat kostnya, ia akan memasak nasi goreng sosis kesukaanku. Santi juga mengatakan di telepon, dengan suara manjanya, bahwa aku bukan hanya diundang makan malam. Aku juga diminta untuk menemani rasa sepinya dengan menginap di sana. Aku terbahak mendengar ucapan Santi yang terus terang itu. Permintaan Santi memang masuk akal. Akhir minggu itu memang hari-hari terakhir menjelang libur panjang akhir tahun, sehingga seluruh teman-teman kostnya telah pulang ke daerah asal mereka masing-masing. Sementara, ibu kost meminta Santi tinggal sampai dengan hari Minggu malam untuk menjaga rumah, karena mereka sekeluarga akan pergi ke Bandung untuk menghadiri acara resepsi pernikahan salah satu saudaranya. Sehingga akhirnya hanya ada Santi seorang diri di pavilion kost, sementara soerang pembantu lain tinggal di rumah induknya.

Cerita Horny Pacarku Tanpa Pakaian Dalam

Ketika aku tiba di rumah kost Santi, ia tampak sedang menyiapkan nasi goreng sosis di sebuah pantry kecil di dalam pavilion itu. Ia segera menawarkan minuman kepadaku dan mempersilakan aku untuk mengambilnya sendiri dari dalam kulkas kecil di sudut pantry itu. Aku memilih sekaleng coca cola kesukaanku. Sambil mengobrol kiri-kanan, Santi meminta maaf kepadaku, karena ia harus kembali bekerja di pantry untuk menyiapkan makanan.
Aku mengatakan, “Nggak masalah, Santi “, lalu ikut menyusulnya ke pantry yang terletak di bagian belakang kamarnya.

Aku berdiri di pintu pantry dengan sekaleng coca cola dingin di tanganku, melihat Santi sibuk mencuci sayuran segar untuk pelengkap nasi gorengku nanti, di sebuah pinggan keramik bermotif ikan-ikan kecil warna-warni. Pantry di rumah kost Santi, walaupun ukurannya relatif kecil tetapi sangat bersih. Di tengah-tengah ruangannya terdapat sebuah meja, tempat Santi saat ini menyiapkan masakannya itu. Tubuhnya membelakangiku, hanya dibungkus rok span pendek dari kain tipis dan badannya dibalut kaos tanpa tangan. Sambil berbicara kesana-kemari, aku diam-diam memandangi tubuh itu. Jelas sekali, tubuhnya yang menggairahkan itu tidak memakai sepotong pakaian dalam pun. Tidak ada celana dalam, tidak ada bra. Kain tipis yang dipakai sebagai rok itu, tak mampu melindungi cahaya menerawang, memperlihatkan bayangan dua paha yang mulus. Kaosnya juga terlalu sempit, tidak bisa menyembunyikan keindahan payudaranya yang padat membusung itu.

Pemandangan seperti itu adalah magnet yang amat kuat, menarikku untuk segera mendekat. Diam-diam aku meletakkan kaleng minumanku, lalu berjalan tanpa suara. Sekejap aku sudah sampai di belakang Santi, dekat sekali.. sehingga seluruh harum tubuhnya tercium dengan jelas. Lalu aku mencium tengkuknya.
“Hei..!” Santi menjerit kaget, “Mas, jangan nggangguin Santi dong.., ntar makanannya jadi nggak enak lho!”.
Aku tidak peduli. Aku terus menciumi tengkuk yang dipenuhi rambut-rambut hitam halus itu. Harum sekali tengkuk itu. Santi menggeliat, mencoba menghindar. Tetapi nyatanya ia tidak sungguh-sungguh menghindar. Cuma bergerak-gerak sedikit saja. Apalagi aku kini mendesak ke depan, menyebabkan Santi terjepit di antara tubuhku dan meja pantry-nya. Tanganku mengusap-usap bukit indah di belakang Santi, sesekali meremasnya. Tanganku yang lain telah merayap ke depan, menjamah sebuah payudara Santi yang bergoyang-goyang seksi setiap kali ia menggelinjang.
“Oocch, Mas.. jangan sekarang..,” Santi mendesah, menggerak-gerakan bahunya mencoba menhindari ciumanku di sepanjang pangkal lehernya.
Tetapi dalam hatinya, ia berkata lain, dan berharap aku tidak segera mengakhirinya.

Aku memang tidak berhenti. Tanganku merayap ke bawah, menyingkap rok yang dikenakan Santi. Memang betul, ia tidak bercelana dalam, dan pemandangan indah segera terpampang. Santi memiliki bagian belakang yang mempesona, kenyal-padat dan menonjol mengundang selera. Dengan gemas aku meremas-remas, membuat Santi menjerit kecil sambil menahan geli. Kedua tangan Santi kini tak bisa meneruskan pembuatan nasi gorengnya, dan berpegangan di bibir meja, antara bertahan dan menyerah. Dengan jari tengahku, aku menelusuri celah sempit di antara dua bukit kenyal di bokong yang seksi itu. Santi menggelinjang merasakan kenikmatannya mulai terbangun di bawah sana. Apalagi lalu jari itu semakin lama semakin ke bawah, lalu agak ke depan, menyelinap ke gerbang kewanitaannya dari belakang. Wow! Santi merenggangkan kedua pahanya, tidak tahan mendapat perlakuan seperti itu.

Sementara tanganku yang lain kini masuk menelusup ke kaos Santi, menjalar menuju bukit payudaranya yang membusung. Oocch.., hangat sekali telapak tanganku merayapi perutnya, naik ke bagian bawah dadanya, lalu menyelinap di antara kedua payudaranya, sebelum akhirnya naik ke salah satu puncaknya.

Santi menggeliat dan mengerang pelan ketika telapak tangan itu berputar-putar ringan di atas puting susunya. Oocch.., geli sekali rasa puncak-puncak payudara Santi, membuat tubuhnya bergetar pelan. Kepala Santi berputar-putar seperti seorang olahragawan sedang warming up, karena bibirku menjalari lehernya, mengendus-endus tengkuknya lagi, membuat Santi kegelian.

Tiba-tiba aku membalikkan tubuh Santi, membuat ia menjerit kaget. Dengan segenap kekuatanku, aku sanggup memutar tubuh rampingnya dengan cepat. Tidak itu saja, aku bahkan sudah mengangkat Santi dan mendudukkannya di atas meja pantry yang di sana-sini dipenuhi bahan-bahan mentah masakannya: nasi putih, sosis, sayuran, sambal, saus tomat, minyak dan mentega. Lalu, aku berjongkok, dan Santi tahu apa yang akan aku lakukan. Dengan gerak cepat, aku menyingkap roknya, sehingga membuat kewanitaannya terpampang bebas dalam terang lampu pantry yang bagai siang hari. Jelas sekali terlihat kewanitaan Santi yang terbalut bulu-bulu hitam lebat tetapi sangat rapi karena baru dicukur, harum karena baru dibasuh sabun wangi.

Bentuknya menyerupai buah ranum dengan belahan di tengah, menggiurkan sekali. Belahan itu lah yang segera aku ciumi, akut telusuri dengan lidahku, membuat Santi merintih nikmat dan memperlebar kangkangannya. Aku pun membantu dengan tanganku, mendorong kedua paha Santi agar lebih jauh terbuka.

Kewanitaan Santi seperti direntang, kedua bibir-bibirnya yang tebal itu terkuak, menampakkan lembah merah-muda yang halus seperti sutra dan licin seperti diminyaki. Aku menjilati bagian yang terkuak itu, mendesak-desakkan lidahku yang panjang ke dinding-dinding kewanitaan Santi, menimbulkan perasaan yang tak terperi dalam dirinya.
“Occhh.., acchh.., ngg..,” cuma itu yang bisa keluar dari mulut Santi.
Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan kenikmatan yang sedang dirasakannya.

Santi tak kuasa menahan tubuhnya rebah di meja pantry. Untunglah meja itu cukup lebar untuk menampung seluruh badannya, walau kedua kakinya tetap bergelantungan, disangga oleh bahuku. Rasa geli dan nikmat menjalar ke seluruh tubuh Santi, meletup-letup seperti air mendidih. Apalagi ketika lidahku bermain-main di daging kecil yang menonjol dalam lempitan bagian atas kewanitaannya. Aku menggunakan jari-jariku untuk menguak persembunyian “Si Kecil Merah” itu, menarik ke atas kulit tebal yang menyembunyikannya, sehingga tonjolan kecil yang berdenyut-denyut lemah itu kini bebas terbuka. Dengan ujung lidahku, aku menjilati si kecil, mengirimkan sejuta kenikmatan yang menjalar cepat ke seluruh tubuh Santi, membuat wanita itu merintih-rintih dan mengerang keras. Salah satu tangan Santi tak sengaja menyentuh botol saus tomat, menyebabkan isinya tumpah di atas meja. Terkejut, Santi bangkit dan memintaku berhenti sebentar. Bukan saja ia ingin menghentikan tumpahan saos tomat, tetapi ia juga punya ide cemerlang!

Aku menghentikan ciumanku, sambil tetap menyenderkan kepalaku di paha Santi yang putih mulus itu.
Lalu aku mendengar Santi berkata, “Kita main-main dulu yaa.., Mas?”

Belum lagi aku menjawab dan mengerti apa maksud ucapannya, Santi telah menuangkan saos tomat ke kewanitaannya. Tersentak, aku mengangkat wajahku dan memandang takjub, melihat saos tomat berleleran keluar dari botol dan memenuhi celah kewanitaan Santi. Acch,.. sebuah permainan baru!
“Mas, bersihkan saus tomat itu dengan mulutmu, please..,” desah Santi nyaris tak terdengar.
Botol saus tomat telah diletakkannya kembali.

Tanpa banyak bicara, aku langsung menjilati saos tomat itu. Santi mendesah, memandangi kewanitaannya dilahap oleh mulutku. Oocch.., menggiurkan sekali pemandangan itu. Nikmat sekali rasanya “dimakan” seperti itu, dibumbui saos tomat. Santi mengerang, merasakan orgasme pertamanya akan segera tiba. Ia merebahkan kembali tubuhnya ketika aku tidak lagi hanya menjilat, tetapi juga mengulum-ngulum “Si Merah Kecil” yang dipenuhi saos tomat, menyedot-nyedotnya seperti hendak membuatnya licin bersih. Seketika, Santi merasakan klimaks yang bergelora menyergap seluruh tubuhnya, dimulai dari selangkangannya dan menyebar cepat ke atas, membuatnya menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air. Aku terus menyedot, mengulum, mengunyah-ngunyah. Santi berteriak-teriak kecil, tak tahan menerima kenikmatan yang bertubi-tubi itu.

Lalu permainan kami semakin menggila. Semakin spontan. Aku menemukan sebuah sosis matang tergeletak di dekatnya. Aku mengambil sosis sebesar ibu jari itu, dan sebelum Santi tahu apa yang terjadi, sosis itu telah melesak ke dalam kewanitaannya. Tadinya, Santi mengira itu salah satu jariku, dan ia mengerang merasakan kenikmatan diterobos daging licin. Tetapi dengan takjub ia kemudian sadar bahwa “jari” itu perlahan-lahan aku makan, aku tarik keluar sedikit-demi-sedikit. Santi bangkit lagi, memandangiku dengan lahap memakan sosis yang agak basah berlumuran cairan cintanya. Aacch.., menggairahkan sekali pemandangan itu. Dengan segera Santi mengambil lagi sebuah sosis. Ketika sosis pertama selesai aku makan, dengan segera Santi memasukkan sosis yang baru. Dengan cepat sosis ini aku makan pula. Lalu yang ketiga. Keempat..

Santi meregang merasakan kenikmatan yang unik menyerbu tubuhnya. Orgasme datang lagi bertubi-tubi, sementara aku merasa birahiku semakin meningkat setelah menikmati sosis yang fresh from the oven itu!

Aku bangkit, mengeluarkan kejantanan dari celanaku. Besar dan tegang sekali kejantananku. Santi melirik ke bawah dari posisi berbaringnya.. Oocch, memandang kejantananku saja sudah cukup memberinya semangat baru. Santi sangat menyukai milikku yang satu itu, sangat kenyal dan kuat, mampu bertahan dalam percumbuan yang panjang menggairahkan. Sambil mengerang, Santi membuka kedua pahanya lebih lebar lagi, meletakkan tumit-tumitnya di pinggir meja. Dengan posisi seperti ini, Santi bagai hewan kurban yang siap disembelih, di atas altar kenikmatan yang dipenuhi bahan-bahan masakan!

Pelan-pelan aku menuntun kejantananku memasuki gerbang kewanitaannya. Kenyal sekali liang yang basah oleh aneka cairan itu, termasuk saos tomat dan kuah sosis. Aku mula-mula menggosok-gosokan bagian kepala dari kejantanannya yang telah membesar itu. Oocch.., Santi merasakan kegelian yang amat-sangat, membuatnya bergidik-bergeletar.

Lalu, perlahan-lahan aku mendorong kejantanannya masuk. Perlahan sekali, mili demi mili batang-otot yang panas-berdenyut itu melesak ke dalam.
“Ah.. acchh.. acchh.. acchh..” Santi mengerang setiap kali kejantananku menerobos masuk. Setiap mili gerakanku menimbulkan percikan nikmat, sehingga ketika akhirnya seluruh kejantanan itu tenggelam di dalam kewanitaannya, Santi langsung mencapai orgasme ketiganya. Cepat sekali puncak birahi itu datang bergantian. Padahal aku belum lagi bergerak maju-mundur.

Aku lalu menaburkan sayuran yang tadinya tengah dicuci dan dipersiapkan sebagai pelengkap nasi goreng di atas dada Santi yang sedang berguncang-guncang. Warna hijau, kuning dan merah segera menghiasi tubuh putih mulus itu. Santi kegelian merasakan daun-daun yang basah dan dingin melekat di tubuhnya yang panas terbakar birahi. Rasa yang amat kontras ini -panas dan dingin- menambah rangsang baru di diri Santi. Betul-betul unik permainan cinta kami kali ini. Betul-betul spontan dan tanpa tedeng aling-aling. Inilah yang selama ini diimpikan Santi jika bercinta. Beruntung sekali ia mendapatkan pasangan bercinta sepertiku.

Sambil mulai menggerak-gerakan pinggulku, menghujam-hujamkan kejantananku, aku pun menunduk mulai memakani sayur-sayuran. Santi telah pula menaburkan saus tomat dan mentega cair di atasnya, sehingga benar-benar menjadi santapan lezat. Sedap sekali rasanya memakan sayur segar di atas tubuh wanita yang menggairahkan ini. Sambil menikmati pula cengkraman otot kenyal di bawah sana yang mengurut-urut kejantananku. Wow!

Aku bagai berada di langit ke tujuh. Fantasi seksualku tersulut dengan cepat, membakar badanku, menyediakan energi berlipat ganda untuk terus bercumbu dan bercumbu lagi.

Santi merintih-mengerang merasakan bagian-bagian dari tubuhnya ikut tergigit ketika aku menyantap “sayuran” di atas tubuhnya. Hal ini menambah nikmat permainan cinta kami, dan sekali lagi, tanpa dapat dicegah, orgasme keempat datang menderu memenuhi tubuh Santi yang memang sudah sangat sensitif ini. Sedikit saja gerakanku mampu menimbulkan kobaran birahi yang membahana. Sedikit saja aku memaju-mundurkan kelaki-lakianku, Santi sudah menjerit-jerit kecil merasakan kenikmatan yang berlipat ganda. Pada saat Santi mencapai klimaks, aku menggigit seiris tomat di puting Santi, dan secara tak sengaja menggigit pula puting itu. Santi menjerit karena ada rasa perih, tetapi jeritannya segera berubah menjadi erangan karena aku pun segera menyadari “kecelakaan” itu, dan mengubah gigitannya menjadi kuluman. Rasa perih segera bercampur dengan geli, cepat sekali membuat Santi menggeliat kuat dan menyerah pada gelombang-gelombang besar puncak birahinya.

Ketika semua sayuran telah habis, Aku tidak lagi memiliki kegiatan lain selain menggenjot menghujam-hujamkan kejantananku. Setelah sekian lama menahan diri dan memberikan empat orgasme kepada Santi, kini aku membiarkan klimaksku sendiri datang menyerbu. Aku mempercepat hujaman-hujaman kejantananku, tidak mempedulikan Santi yang sebenarnya belum lagi selesai dengan klimaks terakhirnya. Santi masih menggelepar-gelepar merasakan akhir dari klimaks itu, tetapi aku telah pula memberikannya kenikmatan baru. Tubuh Santi berguncang, menggeliat, meluncur hampir terjatuh dari meja yang kini penuh keringat bercampur air bekas sayuran, saos tomat, dan sebagainya. Aku cepat-cepat menahan tubuh itu, mencengkram bahunya dengan kuat. Santi cepat-cepat pula berpegangan pada pinggir meja.

Dengan erangan yang menyerupai banteng terluka, Aku akhirnya melepaskan salvo-salvo birahiku, menumpahkan banyak sekali lahar putih pekat yang muncrat sangat kuat dari ujung kejantananku. Santi entah sedang berada di langit yang keberapa, tidak bisa merasakan semprotan-semprotan hangat di dalam kewanitaannya, karena ia sendiri sedang meregang menikmati klimaks kelimanya yang datang menyambung akhir klimaks sebelumnya. Kedua kakinya erat menjepit pinggangku. Matanya terpejam. Mulutnya menganga dengan suara-suara tertahan seperti orang tercekik. Payudaranya berguncang-guncang hebat.

Sebuah desahan yang panjang akhirnya keluar dari mulut Santi, setelah segalanya mereda. Aku terkulai menindih tubuh Santi. Meja pantry berantakan. Botol saos tomat akhirnya terguling tanpa dapat dicegah. Untung botol itu kuat sehingga tidak jatuh berkeping. Tetapi isinya bermuncratan ke mana-mana, bercampur potongan-potongan sayur, tebaran nasi putih yang belum sempat di masak, lelehan mentega cair dan beberapa buah tomat yang jatuh bergelindingan. Kacau sekali!

“Oocch, Mas.. kamu harus membantu Santi membersihkan pantry!” begitu kata Santi setelah kami mampu berbicara lagi.
Berdua kami tertawa terbahak-bahak mengenang kegilaan-keedanan yang baru saja kami lalui.

Makan malam kali ini terpaksa ditunda. Setelah membersihkan pantry, Santi dan aku kehilangan nafsu makan. Sebaliknya, setengah jam kemudian kami telah terlihat bergumul di kamar tidur. Percumbuan dilanjutkan, tetapi dengan tempo yang jauh lebih lambat, dan dalam rentang waktu yang jauh lebih lama.

Kami tak perlu khawatir, karena di seberang tempat kost Santi ada restoran nasi goreng yang buka 24 jam.Tamat

itil reviewitil training
Cerita Horny Pacarku Tanpa Pakaian Dalam
by: | 5